Tampilkan postingan dengan label Write. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Write. Tampilkan semua postingan

Senin, 14 Agustus 2017

Write : Lakukan Hal ini saat Kantong Kosong untuk Pecinta Buku

Assalamu'alaikum
Aduh lagi gak ada duit buat beli buku, gimana ya biar tetep bisa eksis baca buku yang kita inginkan? Kali ini aku kasih seputar pengalamanku tentang apa yang ku lakuakan saat duit gak ada dan masih bisa baca?

1. Buat Wishlist
 Jadi hal pertama yang harus dilakukan adalah buat wishlist atau daftar keinginan. Hal ini gak cuma berlaku ntuk buku tapi untuk semua hal. Karena kita sedang membahas buku, maka buatlah daftar keinginan buku apa yang ingin kamu beli dan baca. Keingnan inilah yang membuat kamu memprioritaskan buku ini harus segala dibeli atau dibaca. Karena kita sedang gak ada duit, maka kita otomatis gak bisa beli kan? tapi bukan berarti kita gak bisa baca. Carilah buku-buku itu di tempat-tempat gratis setelah no 1 ini.
 
2. Datang ke Perpustakaan
 Tempat pertama yang harus kamu kunjungi kalau mau cari buku tapi gratis ya perpustakaan. Orang-orang yang mencintai buku, mereka pasti akan mencari perpustakaan  saat pertama kali menginjakkan kakinya di suatu tempat. Menurut mereka, Perpustakaan adalah sumber referensi, tempat hiburan dan relaksasi, dan lain-lain. Di perpustakaan ini kamu bisa cari buku yang kamu inginkan. Aku sudah datang ke perpustakaan sampai petugas perpusanya hafal, saat SMP malah kadang disuruh nemenin sama petugasnya. Perpustakaan yang pernah kukunjungi
1. Perpustakaan SMP tempat ibu mengajar
2. Perpustakaan SMPku
3. Perpustakaan SMAku
4. Perpustakaan Daerah Kabupaten Kebumen
5. Perpustakaan Universitas
6. Perpustakaan Fakultas
7. Perpustakaan Jurusan
8. Perpustakaan Kota Yogyakarta
Sebenarnya aku ingin juga pergi ke Perpstakaan Grhatama Pustaka tapi belum kesampaian >_<

3. Datang ke Toko Buku
 kenapa ini gak jadi tempat pertama? karena kadang ada orang yang berpikir bahwa ke toko buku harus beli buku dan malu kalau keluar hanya dengan tangan kosong. Sebenarnya anggapan ini tergantung orangnya sih. Toko buku ini bisa juga jadi tempat membaca gratis, tergantung tokonya sih hehe. Ada beberapa toko yang membolehkan bukunya dibuka segelnya tuh, tapi gak semua. Nah buku yang sudah dibuka segelnya itu tuh yang boleh dilihat-lihat (dan dibaca >_<)  untuk bahan pertimbangan konsumen mau beli bukunya apa tidak.  Hal ini karena ada konsumen yang belum puas hanya melihat bagian sinopsis buku. Nah tinggal cek aja, buku wishlistmu ada yang sudah dibuka segelnya gak tuh di toko. Namun ingat ya, gak semua toko,  cuma beberapa toko  aja. Pintar-pintar deh lihat situasi dan kondisi


4. Pinjam Teman
  Kamu boleh tuh pinjam atau tuker-tukeran dengan temanmu. Selain hemat, kamu juga memperat tali persaudaraan dan pertemanan. Asal dijaga aja. Bukunya jangan dihilangkan!

5. Ikutan Give away
Apa itu Giveaway (GA) ? Giveaway itu semacam kuis. Kita hanya mengikuti instruksi atau perintah dari yang membuat GA itu, lalu bila beruntung, kita akan mendapat hadiah yang ditawarkan.  Di mana GA biasa diadakan? Banyak kok, Di Instagram, Twitter, Line, Wattpad, Blog(ini banyak banget), dll. Pintar-pintarnya aja kita nyarinya.
Motif orang atau grup mengadakan GA biasanya :
a. Promo buku baru
b. Ada program komunitas
c. Membuang koleksi buku yang terlalu banyak
d. Ulang Tahun
e. Lagi pengin sedekah jadi ikhlas kasih hadiah tanpa motif

 Beberapa jenis GA :
1. Join atau follow medsos
2. Jawab pertanyaan dari si pembuat GA
3. Kasih pertanyaan ke pembuat GA, penulis, atau penerbit (kadang asal tanya atau bercanda)
4. Undian acak
5. Lomba siapa cepat dia dapat
6. Lomba siapa yang terbanyak (entah follower, like, buku bacaan)
7. Lomba jawaban yang paling tepat dan sesuai dengan isi hati si  pembuat GA #terserahygbuat
8. Pasang foto dengan kata-kata pengantar yang menarik
9. Bikin review buku
10. Kasih alasan kenapa suka atau pengin buku itu (aku paling sebal dengan GA ini -_- )
11. buat suatu karya (puisi, cepen, quotes atau apalah)
12. ikutan challenge atau tantangan (mengumpulkan buku yang warnanya sama atau baca buku genre tertentu, dll)
13. Dll (ini si pembuat GA terlau kreatifny atau karena aku gak belum pernah ikut )

Karena ini Giveaway jadi ya kita gak pasti dapat. Kuncinya yang utama bukan beruntung, tapi ada kemauan dan juga berani. Ikut GA ini manfaatnya bisa mengasah kreativitas kita  lhoo. Kalau beruntung kamu bisa dapat buku yang sesuai wishlistmu


6. Install aplikasi baca
Sekarang zamannya gadget yang bisa menginstall aplikasi apapun di Play  Store. Di sana  ada juga aplikasi yang buat para penggemar buku.  Aku seringnya sih menggunakan Wattpad. Namun, masih ada banyak aplikasi yang bisa membuat membaca dengan gratis yaa
 Namun, aku bisa membagikan info situs yang hobi baca buku klik di sini
 

7. Baca review atau sinopsis Orang
 Biasanya ini hal kedua setelah membuat wishlist. Namun, ini menjadi pilihan terakhir ketika kita benar-benar gak bisa baca buku yang ada. Misal nih di perpus gak ada, di internet gaka ada, di toko buku udah habis, dan lain-lain, Kita harus puas membaca review dari blogger atau hal-hal yang berkaitan dengan buku yang kita inginkan.  Aku pernah mengalaminya ketika aku pengin banget punya buku Tokyo Zodiak Murder. Sangat sulit mencari buku ini. Aku hanya bisa melihat review, nyari-nyari di internet bagaimana ceritanya dan itu sulit sekali ditemukan. Aku hampir putus asa dan hendak mencoretnya dari wishlistku. Namun, akhirnya ada seorang booklovers yang melepaskan buku ini dan aku langsung membelinya.
Kegiatan ini jarang dilakukan karena ada beberapa orang yang takut kena spoiler. Memang aku menyarankan ini menjadi pilihan terakhir apabila kamu benar-benar gak bisa membaca buku yang kamu inginkan



8. Nabung Dulu Guys >_<
 Ini yang paling penting. Nabung! Untuk bisa beli buku yang kita inginkan ya nabung. Nah ada nih program Receh untuk Buku. Program ini aku lihat di salah satu BookBloger dan dijadikan challenge. Aku gak berniat ikut challengenya sih, tapi itu cukup menginspirasiku dalam menabung untuk buku. Ini menjadi challenge bagi diriku sendiri, aturannya gini
1.Sediakan celengan atau tempat menaruh uang tabungan
2. Masukkan uang koin di dalamnya (bebas mau berapa pun). Kenapa koin? karena ini namanya 'Receh' tapi kalu mau uang kertas gak apa-apa sih. Kalau aku memasukkan koin pecahan 100, 200, kadang ada 500 juga.
3. Jangan dibuka atau dibobol lho ya
4. Periode 1 tahun. Jadi, buka celengannya itu kalu sudah setahun ya
5. Setelah dibuka, belilah untuk buku. Harus buku lho ya. Bukan merchandise nya hehe. Terserah kita mau buku dibeli untuk diri sendiri  atau disumbangkan.
Ini bukan saran untuk bisa baca, tapi ini saran ketika kamu pengin buku tapi gak bisa bacadan gak bisa beli. Kamu harus sedari dini melakukan program ini sebelum uang kamu habis. Lagipula aku menyarankan yang receh 100-200 untuk ditabung bukan seratus ribuan... Good Luck ! KARENA BANYAK COBAAN BESAR  >_<


Kalau kamu gimana? Apa yang kamu lakukan saat kamu gak ada uang untuk beli buku ? Koment dibawah  yaa >_<



Selasa, 08 September 2015

Write : Teks Ulasan Sejarah ASAL-USUL ISTILAH 'INDONESIA'


 Zaman dahulu kepulauan tanah air kita disebut dengan aneka nama. Ketika tanah air kita terjajah oleh bangsa Belanda, nama resmi yang digunakan adalah “Nederlandsch- Indie” (Hindia Belanda), sedangkan pemerintah pendudukan Jepang 1942-1945 memakai istilah “To-Indo” (Hindia Timur). Eduard Douwes Dekker (1820-1887), yang dikenal dengan nama samaran Multatuli, pernah mengusulkan nama yang spesifik untuk menyebutkan kepulauan tanah air kita, yaitu “Insulinde”, yang artinya juga “Kepulauan Hindia” (bahasa Latin “insula” berarti pulau). Namun, nama “Insulinde” ini kurang populer.

Pada tahun 1847 di Singapura terbit sebuah majalah ilmiah tahunan, Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia (JIAEA) yang berisi tentang hal-hal yang berkaitan dengan Kepulauan Hindia.

Pada tahun 1850 seorang ahli etnologi bangsa Inggris yang juga seorang redaksi majalah JIAEA, George Samuel Windsor Earl (1813-1865), menulis artikel “On the Leading Characteristics of the Papuan, Australian and Malay-Polynesian Nations”. Earl menegaskan bahwa sudah tiba saatnya bagi penduduk Kepulauan Hindia atau Kepulauan Melayu untuk memiliki nama khas. Earl mengajukan dua pilihan nama: “Indunesia” atau “Malayunesia” (“nesos” dalam bahasa Yunani berarti pulau).
Earl sendiri menyatakan memilih nama “Malayunesia” (Kepulauan Melayu) daripada “Indunesia” (Kepulauan Hindia), sebab “Malayunesia” sangat tepat untuk ras Melayu dan bahasa Melayu dipakai hampir di  seluruh kepulauan.
Pada tahun yang sama, James Richardson Logan,pengelola majalah JIAEA menulis artikel “The Ethnology of the Indian Archipelago. Logan memungut nama “Indunesia” yang dibuang Earl, dan huruf u digantinya dengan huruf o agar ucapannya lebih baik. Maka lahirlah istilah Indonesia.

Pada tahun 1884 guru besar etnologi di Universitas Berlin yang bernama Adolf Bastian (1826-1905) menerbitkan buku “Indonesien oder die Inseln des Malayischen Archipel” sebanyak lima volume, yang memuat hasil penelitiannya ketika mengembara ke tanah air kita tahun 1864 sampai 1880. Buku Bastian inilah yang memopulerkan istilah “Indonesia” di kalangan sarjana Belanda, sehingga sempat timbul anggapan bahwa istilah “Indonesia” itu ciptaan Bastian. Pendapat yang tidak benar itu, antara lain tercantum dalam “Encyclopedie van Nederlandsch- Indie” tahun 1918. Padahal Bastian mengambil istilah “Indonesia” itu dari tulisan-tulisan Logan.

Sedangkan orang pribumi yang mula-mula menggunakan istilah “Indonesia” adalah Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara). Ketika di buang ke negeri Belanda tahun 1913 beliau mendirikan sebuah biro pers dengan nama “Indonesische Pers-bureau.”

Pada dasawarsa 1920-an, nama “Indonesia” yang merupakan istilah ilmiah dalam etnologi dan geografi itu diambil alih oleh tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan tanah air kita, sehingga nama “Indonesia” akhirnya memiliki makna politis, yaitu identitas suatu bangsa yang memperjuangkan kemerdekaan
Pada tahun 1922 atas inisiatif Mohammad Hatta, seorang mahasiswa “Handels Hoogeschool” (Sekolah Tinggi Ekonomi) di Rotterdam, organisasi pelajar dan mahasiswa Hindia di Negeri Belanda (yang terbentuk tahun 1908 dengan nama “Indische Vereeniging”) berubah nama menjadi “Indonesische Vereeniging” atau Perhimpoenan Indonesia. Majalah mereka, Hindia Poetra, berganti nama menjadi Indonesia Merdeka.

Sementara itu, di tanah air Dr. Sutomo mendirikan “Indonesische Studie Club” pada tahun 1924. Tahun itu juga Perserikatan Komunis Hindia berganti nama menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI). Lalu pada tahun 1925 “Jong Islamieten Bond” membentuk kepanduan “Nationaal Indonesische Padvinderij” (Natipij) . Itulah tiga organisasi di tanah air yang mula-mula menggunakan nama “Indonesia”. Akhirnya nama “Indonesia” dinobatkan sebagai nama tanah air, bangsa dan bahasa kita pada Kerapatan Pemoeda-Pemoedi Indonesia tanggal 28 Oktober 1928, yang kini kita sebut Sumpah Pemuda.

Istilah “Indonesia” yang tak lepas dari proses yang panjang. Istilah Indonesia juga bisa diterima baik dalan maupun luar negeri. Puncaknya, pada tanggal 17 Agustus 1945, atas berkat rahmat Allah Yang Mahakuasa, lahirlah Republik Indonesia.


Sumber : yudi81.wordpress.com  dengan beberapa perubahan

http://bukuafifah.blogspot.com/2015/09/writing-teks-ulasan-sejarah-asal-usul.html




Minggu, 24 Mei 2015

Write: Biografi Dewi Lestari



DEWI LESTARI (DEE)
‘DENGAR FIKSINYA, BACA MUSIKNYA’


Dewi Lestari ialah salah satu tokoh Indonesia yang sukses di bidang musik dan juga sastra. Wanita yang lahir di Bandung, 20 Januari 1976 ini, mengawali kisah suksesnya dengan menjadi penulis. Dee -sapaan akrabnya- meluluskan sekolahnya di SMA Negeri 2 Bandung. Kemudian dia melanjutkan kuliah di Universitas Parahyangan jurusan Hubungan Internasional. Latar belakang pendidikannya ini membuatnya fasih merangkai kata, yang kemudian mendorongnya menjadi seorang penulis dan juga penyanyi terkenal.
Dee terlahir sebagai anak keempat dari lima bersaudara dari pasangan Yohan Simangunsong dan Turlan br Siagian (alm). Marcell Siahaan -suami pertama Dee- merupakan seorang penyanyi R&B. Mereka menikah pada tanggal 12 September 2003. Setahun kemudian putra pertama mereka lahir dan diberi nama Keenan Avalokita Kirana. Nama putranya diabadikan Dee sebagai salah satu karakter utama dalam novel terkenalnya yang berjudul Perahu Kertas. Pernikahan ini hanya bertahan 3 tahun. Mereka bercerai pada pertengahan Juni 2008 karena adanya pihak ketiga. Dee kemudian menikah lagi 5 bulan setelah perceraiannya, yaitu 11 November 2008 di Sydney. Suami keduanya bernama Reza Gunawan -seorang pakar penyembuhan holistik- dan dari hasil pernikahannya ini, mereka mempunyai seorang putri bernama Atisha Prajna Tiara (23 Oktober 2009).
Menulis merupakan hobi Dee. Ia sudah menulis sejak SMA. Ia sering mengeluarkan tulisan yang dimuat di berbagai media masa. Karya cerpennya Sikat Gigi dimuat pada tahun 1993 di Jendela Newsletter, -sebuah media berbasis budaya yang independen dan berskala kecil untuk kalangan sendiri di Bandung -. Ia jg menjadi juara pertama lomba menulis cerpen di majalah Gadis dengan karyanya berjudul Ekspresi. Tiga tahun kemudian, ia menulis cerita bersambung berjudul Rico the Coro yang dimuat Majalah Mode.
Tahun 2001, era keemasan dalam karir menulisnya mencapai puncak saat ia merilis novel sensasionalnya, Supernova Satu : Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh. Novel ini dirilis tanggal 16 Februari 2001. Penjualan novelnya menembus angka 12.000 eksemplar dalam tempo 35 hari dan dan mencapai kurang lebih 75.000 eksemplar. Dee yang cerdas menyisipkan banyak sekali istilah sains dalam novelnya padahal novelnya bergenre romance.
Kesuksesan Supernova Satu tidak hanya di Indonesia. Ia menjadi tokoh dunia ketika novelnya diterjemahkan ke dalam bahasa inggris oleh Harry Aveling seorang penulis dan penerjemah asal Australia. Selain itu, berkat novel ini pula, Dee menjadi salah satu nominator Katulistiwa Literary Award (KLA), yang merupakan salah satu penghargaan buku terpopuler di Indonesia. ‘Sekuel’ kedua Supernova mengulang sukses novel terdahulu. Novel berjudul Akar ini rilis pada tanggal 16 Oktober 2002. Novel ini juga menjadikan Dee sebagai salah satu nominasi Katulistiwa Literary Award (KLA) tahun 2003. Tiga tahun kemudian, novel Supernova yang ketiga terbit dengan judul Petir mengikuti sukses dua sekuel terdahulu.
Karya Dee yang merupakan salah satu inovasi di dunia perbukuan Indonesia adalah paduan fiksi dan musik dalam buku sekaligus album RECTOVERSO. Buku ini terbit pada Agustus 2008. Tema yang diusung adalah Satu Hati dari Dua Sisi. Rekto Verso sebenarnya pengistilahan untuk dua citra yang seolah terpisah tapi sesungguhnya satu kesatuan. Rectoverso merupakan ‘hibrida’ dari fiksi dan musik, terdiri dari sebelas cerita pendek dan sebelas lagu yang bisa dinikmati secara terpisah maupun bersama-sama. Keduanya saling melengkapi bagaikan dua imaji yang seolah berdiri sendiri tapi sesungguhnya merupakan satu kesatuan. Inilah cermin dari dua dunia Dewi Lestari yang ia ekspresikan dalam napas kreatifitas tunggal bertajuk "Rectoverso". Cerpen yang paling terkenal dari buku ini adalah Malaikat Juga Tahu yang mengisahkan cinta seorang ibu kepada anaknya yang menderita autisme. Pada Rectoverso, Dewi Lestari melakukan fusion antara musik dengan cerpen. Tagline yang dinarasikan ialah ‘Dengar Fiksinya, Baca Musiknya’
Pada Agustus 2009, Dee menerbitkan novel Perahu Kertas. Selain Rectoverso, Dee juga telah menghasilkan dua buku yang berisi kumpulan fiksi dan prosa pendek, Madre (2011) dan Filosofi Kopi (2012). Tahun 2012, Dee kembali mengeluarkan novel lanjutan serial Supernova empat berjudul Partikel. Tahun 2014, Dee mengeluarkan novel lanjutan Supernovanya yang kelima yaitu Gelombang .
Melalui kiprah kepenulisannnya Dee juga dianugrahi A Playful Mind Award (2003) dan dinobatkan menjadi salah satu Generasi Biang Extra Joss (2004). Selain itu, ia juga tercatat sebagai penulis skenario untuk film adaptasi novelnya, Perahu Kertas. Karyanya -Supernova Satu : Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh- telah difilmkan dengan judul yang sama dan sudah rilis bulan Desember 2014 dengan penulis skenarionya Dhoni Dorgantoro
Dee terlebih dahulu dikenal sebagai penyanyi rekaman dan penulis lagu. Selain menulis, pada saat yang bersamaan, Dee juga menekuni bidang tarik suara. Musik merupakan kegemarannya dari kecil selain menulis. Ia mewarisi bakatnya dari ayahnya yang belajar piano secara otodidak. Selain itu, adiknya juga mengikuti jejaknya menjadi seorang penyanyi (Arina Ephipania, vokalis grup musik Mocca). Dalam dunia musik, namanya dikenal setelah ia bergabung dalam sebuah grup musik Rida Sita Dewi (RSD). Padahal sebelumnya ia menjadi backing vocal beberapa penyanyi terkenal seperti Iwa K, Java Jive dan Chrisye. RSD terbentuk atas prakarsa Ajie Soetama dan Adi Adrian pada tahun 1994 yang beranggotakan Rida Farida, Sita Nursanti dan Dei Lestari. Dewi Lestari meluncurkan beberapa album bersama grupnya, yaitu Antara Kita (1995), Bertiga (1997), The Best of Rida Sita Dewi (2002). Beberapa lagu terkenal RSD adalah Kepadamu, Tak Perlu Memiliki, Ketika Kau Jauh dan Terlambat Bertemu. Beberapa musisi terkenal yang mendukung grup ini diantaranya Santoso/Inno Daopn, Kahitna serta Yovie Widianto.
Karir solo Dee di bidang musik diawali oleh album berbahasa inggris berjudul Out Of Shell di tahun 2006. Dua tahun kemudian, Ia meriliskan album RectoVerso. Ada sebelas lagu di dalam album ini, lagu yang dirilis pertama adalah Malaikat Juga Tahu dan juga menjadi lagu paling terkenal. Di salah satu lagu, Dee juga berduet dengan adiknya (Aku Ada). Selain itu ia juga Aqi Alexa di lagu Peluk Aku. Lagu Firasat yang dibawakan oleh Marcell meneguhkan posisinya sebagai komposer lagu yang handal.
Kesibukan Dee saat ini yaitu menjadi produser konsultan untuk Film Filosofi Kopi. Dia juga tengah menyelesaikan draft Supernova keenam yaitu Intelegensi Embun Pagi dan berusaha menuntaskan satu bulan program ayurvedic balancing hasil konsultasinya dengan seorang praktisi Ayurveda.
Karyanya memiliki kedalaman makna dan menawarkan ‘virus’ bagi para penggemarnya. Jika menilik rekam jejak karya dari Dewi Lestari, ada kreatifitas yang beragam. Karya-karya yang dihasilkannya mampu tampil segar dan tampil dalam berbagai warna. Ibarat keindahan, karyanya adalah keindahan yang tidak monokrom. Ia menghipnotis para penggemarnya dengan karya yang spektakular. Ia mengajarkan kita untuk ‘mendengarkan fiksinya dan membaca musiknya’.

Sumber :
dee-idea.blogspot.com
http://www.rmbiografi.com/06/2012/dewi-lestari-penulis-yang-bernyanyi/
http://dee-interview.blogspot.com/search/label/2015
bukuafifah.blogspot.com


Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *